11. Langit Dan Mentari Senja
Raka dan Nadine kembali menyelam, mengitari bebatuan karang di sekitar perahu. Kali ini mereka agak berpisah untuk memperluas area pencarian.
Nadine nampak bersemangat untuk mencari lobster. Mengasyikkan sekali, seperti sedang berburu harta karun. Ini akan menjadi pengalaman yang bisa ia pamerkan pada Tasya nanti.
Sambil terus berenang, Nadine memperhatikan lekat dasaran pasir di bawah sana. Ternyata memang susah— sebab yang terlihat hanya warna gelap bebatuan karang.
Nadine hampir saja berpindah tempat ketika tanpa sengaja sudut matanya melihat sesuatu di ujung sana. Seharusnya Nadine memanggil Raka untuk kelanjutannya, namun ia merasa perlu untuk memastikannya terlebih dahulu.
Memastikan bahwa ia tidak salah lihat tadi.
Merasa lebih percaya diri, Nadine berenang menuju bebatuan karang itu sendirian. Ia menuju salah satu lubang, di mana tadi ia melihat pergerakan itu.
Nadine memiringkan kepala mencoba melihat di dalamnya.
Gelap. Tentu saja.
Nadine menyipitkan mata, mendekatkan wajah untuk melihat lebih jelas.
Dan sayangnya— terlalu dekat.
Sedetik kemudian, sesuatu yang besar melesat keluar dari dalam lubang.
Rahang yang menganga lebar, dengan barisan gigi tajam meluncur ke arah wajahnya.
Membentur google Nadine dengan hentakan keras.
-BUGH!!
Benturan di wajah, yang seketika membawa Nadine kembali ke dalam momen itu.
Kembali ke saat mobil sport itu bergulingan dengan ia di dalamnya.
Saat pecahan besar kaca rear-view menancap di wajah kanannya.
Nadine pun refleks berteriak.
Ia membuka mulut di dalam air. Mouthpiece snorkel nya terlepas.
Gelembung udara dengan jumlah besar keluar dari dalam dada Nadine.
Yang tergantikan dengan air laut pekat yang mengisi kerongkongan dan paru- parunya.
-BLUURPP!!
Kedua tangan Nadine menggapai- gapai kekosongan. Semua gelembung ini membuat Nadine mengalami disorientasi dengan mana atas dan bawah. Terlebih, Nadine tahu bahwa ada hewan berbahaya di dekatnya.
Semua ini membuat Nadine mengalami kepanikan hebat. Sesuatu yang fatal untuk penyelam.
Air terus mengalir masuk ke dalam kerongkongan Nadine
Ia hampir mati tenggelam.
Tolong!!.
Nadine benar- benar sudah pasrah dengan nasibnya, tepat ketika ia merasakan sesuatu melingkar erat di pinggangnya.
Lengan Raka.
Lelaki itu menekukkan kaki, lalu menjejakkannya kuat pada dasar. Meluncur ke atas sambil mendekap erat Nadine dalam lengannya.
Membawanya ke permukaan di dekat perahu
"UHUK! UHUKK!!" Nadine batuk- batuk hebat, dengan sejumlah air mengucur dari dalam mulutnya.
"Mbak? Mbak Nadine?" Raka menggeser google Nadine ke dahi gadis itu.
Nadine megap- megap menarik nafas. Jantungnya masih berdebar tak karuan mengingat betapa berbahayanya situasi tadi.
"Raka.. Apa itu tadi?"
"Belut morray," Raka menggumam lirih. "Aku lupa memberi tahumu."
Nadine berpegangan pada lengan Raka, menarik nafas dalam. Mencoba menenangkan dirinya, yang masih terengah- engah.
Dan setelah semuanya tenang, Nadine menyadari sesuatu.
Raka masih mendekap pinggangnya, membuat mereka berdua berhimpitan erat mengapung di permukaan. Membuat Nadine begitu jelas merasakan hangat tubuh Raka, seolah menembus pakaian scubanya.
Nadine mendongak, mendapati Raka yang menunduk menatap matanya.
Dan keduanya terdiam.
"..."
"..."
Nadine memegangi kedua pipi Raka.
Dan lalu mendekatkan wajahnya.
Berlatar langit temaram kemerahan, dengan cercah lembut matahari yang hangat menyapa permukaan. Di bawah bayang perahu cadik yang mengapung diam.
Nadine merasakan jantungnya yang berdebur lebih kencang beriring dengan ombak yang mengalun tenang.
Merasakan hangat dan lembut bibir Raka— bercampur asin air laut.
Nadine nampak bersemangat untuk mencari lobster. Mengasyikkan sekali, seperti sedang berburu harta karun. Ini akan menjadi pengalaman yang bisa ia pamerkan pada Tasya nanti.
Sambil terus berenang, Nadine memperhatikan lekat dasaran pasir di bawah sana. Ternyata memang susah— sebab yang terlihat hanya warna gelap bebatuan karang.
Nadine hampir saja berpindah tempat ketika tanpa sengaja sudut matanya melihat sesuatu di ujung sana. Seharusnya Nadine memanggil Raka untuk kelanjutannya, namun ia merasa perlu untuk memastikannya terlebih dahulu.
Memastikan bahwa ia tidak salah lihat tadi.
Merasa lebih percaya diri, Nadine berenang menuju bebatuan karang itu sendirian. Ia menuju salah satu lubang, di mana tadi ia melihat pergerakan itu.
Nadine memiringkan kepala mencoba melihat di dalamnya.
Gelap. Tentu saja.
Nadine menyipitkan mata, mendekatkan wajah untuk melihat lebih jelas.
Dan sayangnya— terlalu dekat.
Sedetik kemudian, sesuatu yang besar melesat keluar dari dalam lubang.
Rahang yang menganga lebar, dengan barisan gigi tajam meluncur ke arah wajahnya.
Membentur google Nadine dengan hentakan keras.
-BUGH!!
Benturan di wajah, yang seketika membawa Nadine kembali ke dalam momen itu.
Kembali ke saat mobil sport itu bergulingan dengan ia di dalamnya.
Saat pecahan besar kaca rear-view menancap di wajah kanannya.
Nadine pun refleks berteriak.
Ia membuka mulut di dalam air. Mouthpiece snorkel nya terlepas.
Gelembung udara dengan jumlah besar keluar dari dalam dada Nadine.
Yang tergantikan dengan air laut pekat yang mengisi kerongkongan dan paru- parunya.
-BLUURPP!!
Kedua tangan Nadine menggapai- gapai kekosongan. Semua gelembung ini membuat Nadine mengalami disorientasi dengan mana atas dan bawah. Terlebih, Nadine tahu bahwa ada hewan berbahaya di dekatnya.
Semua ini membuat Nadine mengalami kepanikan hebat. Sesuatu yang fatal untuk penyelam.
Air terus mengalir masuk ke dalam kerongkongan Nadine
Ia hampir mati tenggelam.
Tolong!!.
Nadine benar- benar sudah pasrah dengan nasibnya, tepat ketika ia merasakan sesuatu melingkar erat di pinggangnya.
Lengan Raka.
Lelaki itu menekukkan kaki, lalu menjejakkannya kuat pada dasar. Meluncur ke atas sambil mendekap erat Nadine dalam lengannya.
Membawanya ke permukaan di dekat perahu
"UHUK! UHUKK!!" Nadine batuk- batuk hebat, dengan sejumlah air mengucur dari dalam mulutnya.
"Mbak? Mbak Nadine?" Raka menggeser google Nadine ke dahi gadis itu.
Nadine megap- megap menarik nafas. Jantungnya masih berdebar tak karuan mengingat betapa berbahayanya situasi tadi.
"Raka.. Apa itu tadi?"
"Belut morray," Raka menggumam lirih. "Aku lupa memberi tahumu."
Nadine berpegangan pada lengan Raka, menarik nafas dalam. Mencoba menenangkan dirinya, yang masih terengah- engah.
Dan setelah semuanya tenang, Nadine menyadari sesuatu.
Raka masih mendekap pinggangnya, membuat mereka berdua berhimpitan erat mengapung di permukaan. Membuat Nadine begitu jelas merasakan hangat tubuh Raka, seolah menembus pakaian scubanya.
Nadine mendongak, mendapati Raka yang menunduk menatap matanya.
Dan keduanya terdiam.
"..."
"..."
Nadine memegangi kedua pipi Raka.
Dan lalu mendekatkan wajahnya.
Berlatar langit temaram kemerahan, dengan cercah lembut matahari yang hangat menyapa permukaan. Di bawah bayang perahu cadik yang mengapung diam.
Nadine merasakan jantungnya yang berdebur lebih kencang beriring dengan ombak yang mengalun tenang.
Merasakan hangat dan lembut bibir Raka— bercampur asin air laut.
Other Stories
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Kutukan Yang Kupanggil Cinta
Sekar Diajeng Wardhani tidak percaya cinta. Bagi perempuan seperti dia, hubungan hanya per ...
Cahaya Di Ujung Mihrab
Amara adalah seorang wanita yang terjebak dalam gemerlap dunia malam yang hampa, hingga se ...
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...
Love Of The Death
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...